Saturday, 3 September 2016

ALIRAN-ALIRAN PEMIKIRAN DALAM ISLAM



Oleh : Muhammad Danu Kurniadi
      Pada artikel ini kita akan membahas beberapa aliran atau firqoh yang ada didalam agama islam. Yang maksudnya adalah semua aliran atau pemikiran yang mengaku atau mengatasnamakan islam walaupun memiliki penyimpangan dalam pemikirannya dari ajaran-ajaran islam yang sesungguhnya. Diantaranya adalah:

a.   Khawarij
Kata khawarij berasal dari kata خرج (kharaja) yang artinya adalah keluar[1]. Mereka disebut demikian karena mereka menyatakan keluar dari kepemimpinan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu setelah peristiwa perang siffin[2]. Khawarij ini pun terpecah menjadi banyak sekte, kurang lebih ada 20 sekte. Akan tetapi yang menyatukan mereka semua adalah pengkafiran mereka terhadap Ali, Utsman, peserta perang jamal, Amr bin al ash, Abu Musa al Asy’ariy, mereka yang ridha dengan tahkim dan membenarkan kedua hakim atau salah satunya, serta mereka sama-sama memberontak kepada penguasa yang dzalim[3]. Dan diantara kesesatan aqidah mereka adalah:
·         Mengkafirkan pelaku maksiat, pelaku dosa besar, orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah
·         Mengkafirkan dan memberontak kepada para penguasa yang tidak sepaham dengan mereka.
·         Mengingkari adanya syafaat untuk pelaku dosa besar.
·         Menghalalkan darah kaum muslimin pelaku dosa besar dan yang mereka anggap murtad[4] dll.

b.   Jahmiyah
Jahmiyah adalah aliran yang sesat dan dikafirkan oleh para ulama. Muncul pada akhir kekuasaan Bani Umayyah. Dinamakan Jahmiyah karena disandarkan pada tokoh pendirinya, yaitu Abu Mahraz Jahm bin Shafwan At-Tirmidzi (wafat tahun 128 H).[5] Ia mengambil pendapat-pendapat gurunya yaitu al Ja’d bin Dirham yang telah disembelih oleh Khalid bin Abdullah al Qasri di Wasith karena kesesatan pemikirannya[6]. Dan diantara kesesatan keyakinan kelompok Jahmiyah ini adalah:
·         Menafikkan Sifat-sifat Allah dan menyelisihi tauhid para Nabi.
·         Berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk
·         Manusia itu hanya tunduk kepada takdir dan tidak punya kehendak serta pilihan.
·         Mengartikan bahwa iman itu hanya mempercayai dan mengetahui dengan hati tanpa disertai dengan amalan.
·         Mereka berpendapat bahwa surga dan Neraka itu fana (tidak kekal).[7]
·         Berkeyakian bahwa Allah berada dimana-mana[8], dll.

c.    Mu’tazilah
Mereka adalah pengikut Washil bin ‘Atha’ (wafat tahun 131 H) dan ‘Amr bin ‘Ubaid (wafat tahun 144 H). Kelompok ini juga memiliki banyak sekte. Diberi nama mu’tazilah karena mereka mengeluarkan diri (i’tizal) dari kelompok kajian al-Hasan al-Basri. Juga mereka disebut Mu’tazilah karena mereka mengisolir diri dari pandangan sebagian besar umat Islam ketika itu dalam hal pelaku dosa besar. Diantara keyakinan-keyakinan sesat mereka adalah:
·         Amar ma’ruf nahi mungkar yang maksudnya adalah memberontak kepada penguasa yang zalim, dsb[9].
·         Menafikan kaum mu’minin akan melihat Allah pada hari kiamat.
·         Mengingkari syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalllam kepada pelaku dosa (besar).
·         Mengingkari adzab kubur dan haudh (telaga).
·         Mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk.
·         Menetapkan bahwa hambalah yang menciptakan keburukan. Dan bahwa perbuatan hamba tidak diciptakan Allah.
·         Berkeyakinan bahwa pelaku maksiat kekal di Neraka.
·         Menafikan sifat-sifat Allah.[10]dll.

d.   Syi’ah
Syiah adalah satu nama untuk setiap orang yang lebih mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas khulafa’ur rasyidin sebelumnya, berpendapat bahwa ahlulbait lah yang lebih berhak memegang khilafah selain mereka adalah bathil[11]. Dan yang pertama kali menyebarkan paham syiah ini adalah Abdullah bin Saba’, seorang yahudi yang memulai gerakannya di akhir masa pemerintahan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Diantara keyakinan-keyakinan sesat syiah adalah:
·         Mengkafirkan orang yang tidak mengimani kekuasaan imam dua belas.
·         Meyakini bahwa kaum Ahlussunnah wal Jama’ah adalah kaum nawashib (orang-orang yang memusuhi ahlul bait)
·         Bertaqiyah (membolehkan seorang menampakkan kebaikan dari yang sebenarnya diingkari oleh hatinya)
·         Menghalalkan darah dan harta kaum muslimin
·         Membolehkan nikah mut’ah
·         Memcaci maki dan mengkafirkan sahabat serta istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam
·         Al-Mahdi akan datang dengan membawa al Qur’an yang sebenarnya[12]
·         Meyakini bahwa para imam terjaga dari dosa[13]
·         Meyakini bahwa Allah Ta’ala tidak mengetahui bagian tertentu sebelum terjadinya.
·         Meyakini bahwa al Quran yang ada pada kaum muslimin telah diubah oleh para sahabat.
·         Meyakini akidah raj’ah/reinkarnasi[14], dll

e.    Qodariyah
Tokoh Qadariyah adalah Ma’bad al-Juhani, Qadariyah berasal dari kata qadar yang berarti Takdir (ketentuan Ilahi)[15]. Dinamakan Qadariyah karena mereka mengingkari taqdir Allah[16]. Muncul pada awal masa pemerintahan Marwaniyah (Bani Marwan) atau pada akhir masa sahabat[17]. Dan diantara aqidah-aqidah mereka yang menyimpang adalah:
·         Mengingkari ilmu Allah yang dahulu, mengingkari catatan Allah terhadap takdir, kehendak, penciptaan, dan ketentuan-Nya.
·         Berpendapat bahwa manusialah yang menciptakan perbuatannya sendiri terlepas dari qodrat dan iradat Allah[18] dll.

f.      Murji’ah
Murji’ah berasal dari kataارجاء  )Irja’( yang berarti penangguhan dan penundaan[19] muncul pada akhir masa sahabat bersamaan dengan aliran qadariyah. Murjiah sendiri ada 3 macam kelompok: Kelompok pertama mengatakan bahwa iman hanya sekedar pengakuan hati, kelompok kedua mengatakan bahwa iman itu sekedar ucapan dengan lisan, kelompok ketiga mengatakan iman itu mempercayai dengan hati dan mengucapkan dengan lisan. Diantara keyakinan-keyakinan sesat mereka adalah:
·      Iman adalah pernyataan tanpa disertai perbuatan.
·      Kemaksiatan tidak berbahaya jika disertai dengan iman, dan ketaatan tidak bermanfaat jika disertai kekufuran.
·      Mereka berkata,”Tidak ada seorangpun dari ahli tauhid yang masuk neraka.
·      Tidak boleh mengucapkan,”Saya Mukmin, Insyaallah”[20].
·      Amal tidak termasuk iman
·      Iman tidak bertambah dan tidak pula berkurang[21], dll

g.    Asy’ariyah
Mereka adalah orang-orang yang menisbatkan diri pada Abul Hasan al-Asy’ari (wafat tahun 330 H)[22]. Imam Abul Hasan al-Asy’ari mengalami 3 fase kehidupan: pertama berakidah mu’tazilah, kedua menetapkan 7 sifat kepada Allah (dan dari sinilah muncul pemahaman Asy’ariyah yang sekarang telah menyebar), dan ketiga beliau kembali ke Aqidah Ahlussunnah wal jama’ah dan beliau berlepas diri dari akidah lama beliau. Diantara Keyakinan-keyakinan yang menyimpang adalah:
·      Mereka menetapkan 7 sifat bagi  Allah.
·      Mereka menghilangkan dan mentakwil sifat-sifat khabariyah Allah Ta’ala.
·      Mereka mengatakan bahwa Allah berfirman tanpa ada keinginan dan kehendak dari-Nya dengan firman yang melekat pada zatNya.
·      Berpendapat bahwa Allah Ta’ala boleh saja menyiksa orang-orang yang taat.
·      Menurut mereka sifat-sifat perbuatan Allah adalah baru.
·      Firman Allah itu kalam nafsi tanpa suara dan tanpa huruf[23], dll.

h.   Ahlussunnah
Adapun Ahlussunnah adalah Orang-orang yang berpegang kepada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman para salafus shaleh. Dengan kata lain, Ahlussunnah adalah islam itu sendiri, sebagaimana Imam Barbahari mengatakan bahwa:
اعلم أن الإسلام هو السنة و السنة هي الإسلام
“Ketahuilah bahwasannya Islam adalah As Sunnah dan As Sunnah adalah Islam”[24]
Dan penyebutan kata Ahlussunnah pertama kali diucapkan oleh Ibnu Abbas ketika mentafsirkan QS. Ali Imron : 106, beliau mengatakan:
حين تبيض وجوه أهل السنة والجماعة و تسود وجوه أهل البدعة و الفرقة
“Ketika menjadi putih wajah-wajah ahlussunnah wal jama’ah dan menjadi hitam wajah-wajah ahlul bid’ah dan kelompok-kelompok (sesat)”[25]
   Ahlussunnah wal jama’ah memiliki banyak nama, diantaranya adalah Firqatun najiyah, tha’ifah manshurah, ahlul atsar, ahlul hadits, Salafiy dll. Diantara keyakinan-keyakinan Ahlussunnah wal jama’ah yang menyelisihi keyakinan-keyakinan menyimpang pada aliran-aliran sebelumnya adalah
·         Ahlussunnah wal jama’ah mendengar dan taat kepada pemimpin terhadap hal-hal yang dicintai dan diridhoi Allah, Apakah dia pemimpin yang baik atau pendosa[26]. Sebagaimana Firman Allah Ta’ala,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah, taatilah Rasulullah dan ulil amri diantara kalian”. (QS. An Nisa’: 9)
·         Beriman bahwa syafaat nabi untuk pelaku dosa besar, sebagaimana yang dikatakan Imam Ahmad dalam Ushulussunnah[27]. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
شفاعتي لأهل الكبائر من أمتي
“Syafaatku untuk akan diberikan untuk pelaku dosa-dosa besar dari kalangan umatku” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad dan yang lainnya)
·         Al Qur’an adalah Kalamullah, bukan makhluk[28] dan terjaga dari segala macam perubahan. Sebagaimana Firman Allah Subahanahu Wa Ta’ala,
وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ
“Dan jika diantara kaum musyrikin ada yang meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah agar dia dapat mendengar firman Allah........” (QS At Taubah : 6)
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya kami telah menurunkan adz-dzikra (Al Qur’an) dan sesungguhnya kamilah yang menjaganya” (QS Al Hijr: 9)
·         Imam Ahmad mengatakan,”Iman adalah perkataan (lisan dan hati) dan amalan, iman itu bertambah dan berkurang”[29].
·         Manusia mempunyai kekuasaan atas perbuatan mereka, dan Allah lah yang menciptakan kekuasaan dan keinginan itu.[30]Juga beriman kepada takdir Allah yang baik dan buruk.[31]. Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman,
لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ ﴿٢٨﴾ وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Bagi siapa diantara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus. Dan Kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) Kecuali apa bila dikehendaki oleh Allah Rabb seluruh alam”. (QS At Takwir : 28-29)
Dan Rasulullah bersabda,
كتب الله مقادير الخلائق قبل ان يخلق السماوات و الأرض بخمسين الف سنة
“ Allah telah mencatat taqdir seluruh makhluk 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi”. (HR. Muslim, Tirmidzi dan Ahmad)
·         Surga dan neraka sudah diciptakan, serta keduanya adalah makhluk yang kekal sebagaimana disebutkan pada kitab Aqidah Thahawiyah karya Abu Ja’far Ath thahawi[32].
·         Beriman bahwa Allah berada diatas Arsy dan di langit[33].
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
“Ar-rahman yang bersemayam diatas Arsy-Nya” (QS Taha: 5)
·         Imam Ahmad mengatakan didalam kitabnya Ushulussunnah, Beriman kepada Al Haudh (Telaga nabi), kepada adzab kubur, dan perjumpaan Allah dengan makhluknya pada hari kiamat[34].
·         Ahlussunnah memuliakan para sahabat, istri-istri nabi, dan para ahlul bait[35]. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
لا تسبوا أصحاب, فوالذي نفس بيده لو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا ما بلغ مد أحدهم ملا نصيفه
“Janganlah kalian mencela sahabatku, Demi Rabb yang diriku berada di genggamanNya. Sekira salah seorang diantara kalian berinfaq dengan emas sebesar gunung uhud, tidaklah melampaui satu mud infaq mereka ataupun separuhnya”. (HR. Bukhori, Muslim, Abu Dawud)
·         Tidak mempunyai keyakinan kepada imam 12 yang terjaga dari kesalahan, keyakinan renkarnasi, dan yang sejenisnya.
·         Ahlussunnah dalam Asma’ wa shifat Allah tidak mengingkarinya, tidak menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk, tidak menamai kecuali apa-apa yang telah dinamakan Allah Ta’ala untuk dirinya sendiri, tidak menjadikan nama-nama Allah untuk nama-nama berhala[36].





[1] Achmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997), 329.
[2] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Mulia dengan Manhaj Salaf  (Bogor, Pustaka At-taqwa, 2009), 501.
[3] Ummu Tamim Izzah binti Rasyad, Menyingkap Aliran dan Paham Sesat  (Jakarta: Pustaka Imam Ahmad, 2010), 66.
[4] Ummu Tamim Izzah binti Rasyad, Menyingkap Aliran dan Paham Sesat  (Jakarta: Pustaka Imam Ahmad, 2010), 67-69.
[5] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Mulia dengan Manhaj Salaf  (Bogor, Pustaka At-taqwa, 2009), 505.
[6] Ummu Tamim Izzah binti Rasyad, Menyingkap Aliran dan Paham Sesat  (Jakarta: Pustaka Imam Ahmad, 2010), 143.
[7] Ummu Tamim Izzah binti Rasyad, Menyingkap Aliran dan Paham Sesat  (Jakarta: Pustaka Imam Ahmad, 2010), 144-147.
[8] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Mulia dengan Manhaj Salaf  (Bogor, Pustaka At-taqwa, 2009), 506.
[9]Idem hal. 508-809.
[10] Ummu Tamim Izzah binti Rasyad, Menyingkap Aliran dan Paham Sesat  (Jakarta: Pustaka Imam Ahmad, 2010), 154-156.
[11] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Mulia dengan Manhaj Salaf  (Bogor, Pustaka At-taqwa, 2009), 502.
[12] Ummu Tamim Izzah binti Rasyad, Menyingkap Aliran dan Paham Sesat  (Jakarta: Pustaka Imam Ahmad, 2010), 110-115.
[13] Abdullah Muslim, Apa Yangs Anda Ketahui Tentang Syiah ? (Surabaya: Duta Ilmu, 2014),  11.
[14] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Mulia dengan Manhaj Salaf  (Bogor, Pustaka At-taqwa, 2009), 502-503.
[15] Achmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997), 1095.
[16] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Mulia dengan Manhaj Salaf  (Bogor, Pustaka At-taqwa, 2009), 504-505.
[17] Ummu Tamim Izzah binti Rasyad, Menyingkap Aliran dan Paham Sesat  (Jakarta: Pustaka Imam Ahmad, 2010), 167-168.
[18] Idem hal. 168-169.
[19] Achmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997),  473.
[20]Ummu Tamim Izzah binti Rasyad, Menyingkap Aliran dan Paham Sesat  (Jakarta: Pustaka Imam Ahmad, 2010), 127-129.
[21] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Mulia dengan Manhaj Salaf  (Bogor, Pustaka At-taqwa, 2009), 507.
[22] Ummu Tamim Izzah binti Rasyad, Menyingkap Aliran dan Paham Sesat  (Jakarta: Pustaka Imam Ahmad, 2010), 175.
[23] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Mulia dengan Manhaj Salaf  (Bogor, Pustaka At-taqwa, 2009), 510-511.
[24] Ahmad bin Yahya An Najmi, Irsyadus Saari Fi Syarhissunnati lil barbahari (Kairo: Darul Minhaj, 2009), 25.
[25] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’anul Adzim (Beirut: Maktabah ‘Ashariyah, 2000),  323.
[26] Ahmad bin Yahya An Najmi, Irsyadus Saari Fi Syarhissunnati lil barbahari (Kairo: Darul Minhaj, 2009), 99.
[27] Al Jami’ul faridu fi mutunil aqidah wat tauhid (Kairo: Darul Atsar, 2013),12.
[28] Shalih bin Fauzan al Fauzan, Syarhu al Aqidah al Wasitiyah (Riyadh: Maktabatul Ma’arif linasyri wat tauzi’, 1999), 88-90.
[29] Al Jami’ul faridu fi mutunil aqidah wat tauhid (Kairo: Darul Atsar, 2013), 12.
[30] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Syarh Aqidah Ahlussunnah wal jama’ah (Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2014), 344.
[31] Al Jami’ul faridu fi mutunil aqidah wat tauhid (Kairo: Darul Atsar, 2013),  10.
[32] Al Jami’ul faridu fi mutunil aqidah wat tauhid (Kairo: Darul Atsar, 2013), 61.
[33] Shalih bin Fauzan al Fauzan, Syarhu al Aqidah al Wasitiyah (Riyadh: Maktabatul Ma’arif linasyri wat tauzi’, 1999), 76-78.
[34] Al Jami’ul faridu fi mutunil aqidah wat tauhid (Kairo: Darul Atsar, 2013), 11.
[35] Shalih bin Fauzan al Fauzan, Syarhu al Aqidah al Wasitiyah (Riyadh: Maktabatul Ma’arif linasyri wat tauzi’, 1999), 176-190.
[36] Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Al Qawaidul Mutsla Fi Sifatilah Wa Asmaihil Husna (Riyadh: Maktabah Adhwa’ As salaf, 1996), 49-50.

0 komentar:

Post a Comment