Oleh : Muhammad Danu Kurniadi
Pada artikel ini kita akan membahas beberapa aliran atau
firqoh yang ada didalam agama islam. Yang maksudnya adalah semua aliran atau
pemikiran yang mengaku atau mengatasnamakan islam walaupun memiliki
penyimpangan dalam pemikirannya dari ajaran-ajaran islam yang sesungguhnya.
Diantaranya adalah:
a.
Khawarij
Kata khawarij berasal dari kata خرج
(kharaja) yang artinya adalah keluar[1].
Mereka disebut demikian karena mereka menyatakan keluar dari kepemimpinan Ali
bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu setelah peristiwa perang siffin[2].
Khawarij ini pun terpecah menjadi banyak sekte, kurang lebih ada 20 sekte. Akan
tetapi yang menyatukan mereka semua adalah pengkafiran mereka terhadap Ali,
Utsman, peserta perang jamal, Amr bin al ash, Abu Musa al Asy’ariy, mereka yang
ridha dengan tahkim dan membenarkan kedua hakim atau salah satunya, serta
mereka sama-sama memberontak kepada penguasa yang dzalim[3].
Dan diantara kesesatan aqidah mereka adalah:
·
Mengkafirkan
pelaku maksiat, pelaku dosa besar, orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah
·
Mengkafirkan
dan memberontak kepada para penguasa yang tidak sepaham dengan mereka.
·
Mengingkari
adanya syafaat untuk pelaku dosa besar.
b.
Jahmiyah
Jahmiyah adalah aliran yang sesat dan dikafirkan oleh para ulama. Muncul
pada akhir kekuasaan Bani Umayyah. Dinamakan Jahmiyah karena disandarkan pada
tokoh pendirinya, yaitu Abu Mahraz Jahm bin Shafwan At-Tirmidzi (wafat tahun
128 H).[5]
Ia mengambil pendapat-pendapat gurunya yaitu al Ja’d bin Dirham yang telah
disembelih oleh Khalid bin Abdullah al Qasri di Wasith karena kesesatan
pemikirannya[6].
Dan diantara kesesatan keyakinan kelompok Jahmiyah ini adalah:
·
Menafikkan Sifat-sifat
Allah dan menyelisihi tauhid para Nabi.
·
Berpendapat bahwa
Al-Qur’an adalah makhluk
·
Manusia itu hanya tunduk
kepada takdir dan tidak punya kehendak serta pilihan.
·
Mengartikan bahwa iman
itu hanya mempercayai dan mengetahui dengan hati tanpa disertai dengan amalan.
c.
Mu’tazilah
Mereka adalah pengikut Washil bin ‘Atha’ (wafat tahun 131 H) dan ‘Amr
bin ‘Ubaid (wafat tahun 144 H). Kelompok ini juga memiliki banyak sekte. Diberi
nama mu’tazilah karena mereka mengeluarkan diri (i’tizal) dari kelompok kajian
al-Hasan al-Basri. Juga mereka disebut Mu’tazilah karena mereka mengisolir diri
dari pandangan sebagian besar umat Islam ketika itu dalam hal pelaku dosa
besar. Diantara keyakinan-keyakinan sesat mereka adalah:
·
Menafikan kaum mu’minin
akan melihat Allah pada hari kiamat.
·
Mengingkari syafaat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalllam kepada pelaku dosa (besar).
·
Mengingkari adzab kubur
dan haudh (telaga).
·
Mengatakan bahwa
al-Qur’an adalah makhluk.
·
Menetapkan bahwa
hambalah yang menciptakan keburukan. Dan bahwa perbuatan hamba tidak diciptakan
Allah.
·
Berkeyakinan bahwa
pelaku maksiat kekal di Neraka.
d.
Syi’ah
Syiah adalah satu nama untuk setiap orang yang lebih mengutamakan Ali
bin Abi Thalib atas khulafa’ur rasyidin sebelumnya, berpendapat bahwa ahlulbait
lah yang lebih berhak memegang khilafah selain mereka adalah bathil[11].
Dan yang pertama kali menyebarkan paham syiah ini adalah Abdullah bin Saba’,
seorang yahudi yang memulai gerakannya di akhir masa pemerintahan Utsman bin
Affan radhiyallahu ‘anhu. Diantara keyakinan-keyakinan sesat syiah adalah:
·
Mengkafirkan orang yang
tidak mengimani kekuasaan imam dua belas.
·
Meyakini bahwa kaum
Ahlussunnah wal Jama’ah adalah kaum nawashib (orang-orang yang memusuhi ahlul
bait)
·
Bertaqiyah (membolehkan
seorang menampakkan kebaikan dari yang sebenarnya diingkari oleh hatinya)
·
Menghalalkan darah dan
harta kaum muslimin
·
Membolehkan nikah mut’ah
·
Memcaci maki dan
mengkafirkan sahabat serta istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam
·
Meyakini bahwa Allah
Ta’ala tidak mengetahui bagian tertentu sebelum terjadinya.
·
Meyakini bahwa al Quran
yang ada pada kaum muslimin telah diubah oleh para sahabat.
e.
Qodariyah
Tokoh Qadariyah adalah Ma’bad al-Juhani, Qadariyah berasal dari kata qadar
yang berarti Takdir (ketentuan Ilahi)[15].
Dinamakan Qadariyah karena mereka mengingkari taqdir Allah[16].
Muncul pada awal masa pemerintahan Marwaniyah (Bani Marwan) atau pada akhir
masa sahabat[17].
Dan diantara aqidah-aqidah mereka yang menyimpang adalah:
·
Mengingkari ilmu Allah
yang dahulu, mengingkari catatan Allah terhadap takdir, kehendak, penciptaan,
dan ketentuan-Nya.
·
Berpendapat bahwa
manusialah yang menciptakan perbuatannya sendiri terlepas dari qodrat dan
iradat Allah[18]
dll.
f.
Murji’ah
Murji’ah berasal dari kataارجاء )Irja’( yang
berarti penangguhan dan penundaan[19]
muncul pada akhir masa sahabat bersamaan dengan aliran qadariyah. Murjiah
sendiri ada 3 macam kelompok: Kelompok pertama mengatakan bahwa iman hanya
sekedar pengakuan hati, kelompok kedua mengatakan bahwa iman itu sekedar ucapan
dengan lisan, kelompok ketiga mengatakan iman itu mempercayai dengan hati dan
mengucapkan dengan lisan. Diantara keyakinan-keyakinan sesat mereka adalah:
·
Iman adalah pernyataan
tanpa disertai perbuatan.
·
Kemaksiatan tidak
berbahaya jika disertai dengan iman, dan ketaatan tidak bermanfaat jika
disertai kekufuran.
·
Mereka berkata,”Tidak
ada seorangpun dari ahli tauhid yang masuk neraka.
·
Amal tidak termasuk iman
g.
Asy’ariyah
Mereka adalah orang-orang yang menisbatkan diri pada Abul Hasan
al-Asy’ari (wafat tahun 330 H)[22].
Imam Abul Hasan al-Asy’ari mengalami 3 fase kehidupan: pertama berakidah
mu’tazilah, kedua menetapkan 7 sifat kepada Allah (dan dari sinilah muncul
pemahaman Asy’ariyah yang sekarang telah menyebar), dan ketiga beliau kembali
ke Aqidah Ahlussunnah wal jama’ah dan beliau berlepas diri dari akidah lama
beliau. Diantara Keyakinan-keyakinan yang menyimpang adalah:
·
Mereka menetapkan 7
sifat bagi Allah.
·
Mereka menghilangkan dan
mentakwil sifat-sifat khabariyah Allah Ta’ala.
·
Mereka mengatakan bahwa
Allah berfirman tanpa ada keinginan dan kehendak dari-Nya dengan firman yang
melekat pada zatNya.
·
Berpendapat bahwa Allah
Ta’ala boleh saja menyiksa orang-orang yang taat.
·
Menurut mereka
sifat-sifat perbuatan Allah adalah baru.
h.
Ahlussunnah
Adapun Ahlussunnah adalah Orang-orang yang berpegang kepada Al Qur’an
dan As Sunnah dengan pemahaman para salafus shaleh. Dengan kata lain,
Ahlussunnah adalah islam itu sendiri, sebagaimana Imam Barbahari mengatakan
bahwa:
اعلم أن الإسلام هو السنة
و السنة هي الإسلام
“Ketahuilah bahwasannya Islam adalah As Sunnah
dan As Sunnah adalah Islam”[24]
Dan penyebutan kata Ahlussunnah pertama
kali diucapkan oleh Ibnu Abbas ketika mentafsirkan QS. Ali Imron : 106, beliau
mengatakan:
حين تبيض وجوه أهل السنة
والجماعة و تسود وجوه أهل البدعة و الفرقة
“Ketika menjadi putih wajah-wajah
ahlussunnah wal jama’ah dan menjadi hitam wajah-wajah ahlul bid’ah dan
kelompok-kelompok (sesat)”[25]
Ahlussunnah
wal jama’ah memiliki banyak nama, diantaranya adalah Firqatun najiyah, tha’ifah
manshurah, ahlul atsar, ahlul hadits, Salafiy dll. Diantara keyakinan-keyakinan
Ahlussunnah wal jama’ah yang menyelisihi keyakinan-keyakinan menyimpang pada
aliran-aliran sebelumnya adalah
·
Ahlussunnah
wal jama’ah mendengar dan taat kepada pemimpin terhadap hal-hal yang dicintai
dan diridhoi Allah, Apakah dia pemimpin yang baik atau pendosa[26].
Sebagaimana Firman Allah Ta’ala,
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي
الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah,
taatilah Rasulullah dan ulil amri diantara kalian”. (QS. An Nisa’: 9)
·
Beriman
bahwa syafaat nabi untuk pelaku dosa besar, sebagaimana yang dikatakan Imam Ahmad
dalam Ushulussunnah[27].
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
شفاعتي لأهل الكبائر من
أمتي
“Syafaatku untuk akan diberikan untuk
pelaku dosa-dosa besar dari kalangan umatku” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad
dan yang lainnya)
·
Al
Qur’an adalah Kalamullah, bukan makhluk[28] dan terjaga dari segala macam perubahan. Sebagaimana Firman Allah Subahanahu Wa Ta’ala,
وَإِنْ
أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ
اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ
“Dan jika diantara kaum musyrikin ada yang
meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah agar dia dapat mendengar firman
Allah........” (QS At Taubah : 6)
إِنَّا
نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya kami telah menurunkan adz-dzikra
(Al Qur’an) dan sesungguhnya kamilah yang menjaganya” (QS Al Hijr: 9)
·
Imam
Ahmad mengatakan,”Iman adalah perkataan (lisan dan hati) dan amalan, iman itu
bertambah dan berkurang”[29].
·
Manusia
mempunyai kekuasaan atas perbuatan mereka, dan Allah lah yang menciptakan
kekuasaan dan keinginan itu.[30]Juga beriman kepada takdir Allah yang baik dan buruk.[31]. Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman,
لِمَنْ
شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ ﴿٢٨﴾ وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ
الْعَالَمِينَ
“Bagi siapa diantara kamu yang menghendaki
menempuh jalan yang lurus. Dan Kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan
itu) Kecuali apa bila dikehendaki oleh Allah Rabb seluruh alam”. (QS At Takwir
: 28-29)
Dan Rasulullah bersabda,
كتب الله مقادير الخلائق قبل ان يخلق السماوات و الأرض بخمسين الف سنة
“ Allah telah mencatat taqdir seluruh
makhluk 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi”. (HR. Muslim,
Tirmidzi dan Ahmad)
·
Surga
dan neraka sudah diciptakan, serta keduanya adalah makhluk yang kekal
sebagaimana disebutkan pada kitab Aqidah Thahawiyah karya Abu Ja’far Ath
thahawi[32].
الرَّحْمَٰنُ
عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
“Ar-rahman yang bersemayam diatas Arsy-Nya” (QS
Taha: 5)
·
Imam
Ahmad mengatakan didalam kitabnya Ushulussunnah, Beriman kepada Al Haudh
(Telaga nabi), kepada adzab kubur, dan perjumpaan Allah dengan makhluknya pada
hari kiamat[34].
·
Ahlussunnah memuliakan para sahabat, istri-istri nabi, dan para ahlul
bait[35]. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam,
لا تسبوا أصحاب, فوالذي
نفس بيده لو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا ما بلغ مد أحدهم ملا نصيفه
“Janganlah kalian mencela
sahabatku, Demi Rabb yang diriku berada di genggamanNya. Sekira salah seorang
diantara kalian berinfaq dengan emas sebesar gunung uhud, tidaklah melampaui
satu mud infaq mereka ataupun separuhnya”. (HR. Bukhori, Muslim, Abu Dawud)
·
Tidak mempunyai keyakinan kepada imam 12 yang terjaga dari kesalahan, keyakinan
renkarnasi, dan yang sejenisnya.
·
Ahlussunnah
dalam Asma’ wa shifat Allah tidak mengingkarinya, tidak menyerupakannya dengan
sifat-sifat makhluk, tidak menamai kecuali apa-apa yang telah dinamakan Allah
Ta’ala untuk dirinya sendiri, tidak menjadikan nama-nama Allah untuk nama-nama
berhala[36].
[3] Ummu Tamim Izzah binti
Rasyad, Menyingkap Aliran dan Paham Sesat (Jakarta: Pustaka Imam Ahmad, 2010), 66.
[4] Ummu Tamim Izzah binti
Rasyad, Menyingkap Aliran dan Paham Sesat (Jakarta: Pustaka Imam Ahmad, 2010), 67-69.
[6] Ummu Tamim Izzah binti
Rasyad, Menyingkap Aliran dan Paham Sesat (Jakarta: Pustaka Imam Ahmad, 2010), 143.
[7] Ummu Tamim Izzah binti
Rasyad, Menyingkap Aliran dan Paham Sesat (Jakarta: Pustaka Imam Ahmad, 2010), 144-147.
[9]Idem hal. 508-809.
[10] Ummu Tamim Izzah binti
Rasyad, Menyingkap Aliran dan Paham Sesat (Jakarta: Pustaka Imam Ahmad, 2010), 154-156.
[12] Ummu Tamim Izzah binti
Rasyad, Menyingkap Aliran dan Paham Sesat (Jakarta: Pustaka Imam Ahmad, 2010), 110-115.
[14] Yazid bin Abdul Qadir
Jawas, Mulia dengan Manhaj Salaf (Bogor,
Pustaka At-taqwa, 2009), 502-503.
[16] Yazid bin Abdul Qadir
Jawas, Mulia dengan Manhaj Salaf (Bogor,
Pustaka At-taqwa, 2009), 504-505.
[17] Ummu Tamim Izzah binti
Rasyad, Menyingkap Aliran dan Paham Sesat (Jakarta: Pustaka Imam Ahmad, 2010), 167-168.
[20]Ummu Tamim Izzah binti Rasyad, Menyingkap
Aliran dan Paham Sesat (Jakarta:
Pustaka Imam Ahmad, 2010), 127-129.
[22] Ummu Tamim Izzah binti
Rasyad, Menyingkap Aliran dan Paham Sesat (Jakarta: Pustaka Imam Ahmad, 2010), 175.
[23] Yazid bin Abdul Qadir
Jawas, Mulia dengan Manhaj Salaf (Bogor,
Pustaka At-taqwa, 2009), 510-511.
[24] Ahmad bin Yahya An Najmi,
Irsyadus Saari Fi Syarhissunnati lil barbahari (Kairo: Darul Minhaj,
2009), 25.
[26] Ahmad bin Yahya An Najmi,
Irsyadus Saari Fi Syarhissunnati lil barbahari (Kairo: Darul Minhaj,
2009), 99.
[28] Shalih bin Fauzan al Fauzan, Syarhu al Aqidah al Wasitiyah (Riyadh:
Maktabatul Ma’arif linasyri wat tauzi’, 1999), 88-90.
[30] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Syarh Aqidah Ahlussunnah wal jama’ah
(Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2014), 344.
[33] Shalih bin Fauzan al Fauzan, Syarhu al Aqidah al Wasitiyah (Riyadh:
Maktabatul Ma’arif linasyri wat tauzi’, 1999), 76-78.
[35] Shalih bin Fauzan al Fauzan, Syarhu al Aqidah al Wasitiyah (Riyadh:
Maktabatul Ma’arif linasyri wat tauzi’, 1999), 176-190.
[36] Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Al Qawaidul Mutsla Fi Sifatilah Wa
Asmaihil Husna (Riyadh: Maktabah Adhwa’ As salaf, 1996), 49-50.







0 komentar:
Post a Comment