Oleh : Muhammad Danu Kurniadi
Perkataan “Allah tidak mampu berbuat
dzalim”.
Ada sebuah
perkataan yang ada di masyarakat, yaitu “Allah tidak mampu berbuat dzalim”.
Perkataan seperti ini atau yang semisalnya adalah salah satu contoh perkataan
yang penuh kerancuan di dalamnya. Karena Allah ketika menafikan sifat
kedzaliman dari diri-Nya, bukan berarti bahwa Allah tidak bisa berbuat dzalim.
Padahal justru karena Allah mampu dan sanggup berbuat dzalim dan karena
kesempurnaan keadilan-Nya, Allah tidak mau berbuat dzalim. Begitulah yang
dijelaskan oleh para ulama, bahwa Allah sanggup untuk berbuat dzalim, akan
tetapi karena kesempurnaan keadilan-Nya Allah
tidak mau berbuat dzalim.
Jika kita
memperhatikan kata-kata “Allah tidak mempu berbuat dzalim”, seandainya benar
bahwa Allah secara Dzat-Nya tidak mampu berbuat dzalim, kemudian Dia menafikan
sifat kedzaliman dari diri-Nya, maka ini menunjukkan sifat lemah bagi Allah, Naudzu
billah min dzalik. Bagaimana mungkin Allah menafikan suatu sifat yang tidak
Dia miliki ? Sebagai contohnya adalah perkataan, “Tembok ini tidak mampu
berbuat dzalim”, karena apa ? karena memang tembok tidak akan mungkin berbuat
dzalim dan tidak memiliki sifat dzalim. Ini bukan sifat kesempurnaan dan bukan
sifat pujian, justru ini adalah sifat kelemahan.
Maka perkataan
seperti itu jika dinisbatkan kepada Allah merupakan perkataan yang salah
walaupun mungkin niat orang yang mengucapkannya baik. Menurut para ulama,
bahwasannya ahlusunnah wal jamaah berkeyakinan bahwa Allah mampu berbuat
dzalim, akan tetapi karena kesempurnaan sifat keadilannya Allah tidak berbuat
dzalim, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا أَنَا بِظَلَّامٍ لِلعَبِيْد
“Dan Aku
sekali-kali tidak mendzalimi hamba-hamba-Ku” (QS. Qaf : 29)
Hal itu karena Allah adalah Dzat
Yang Maha Adil, bukan karena Allah tidak mampu untuk berbuat dzalim. Itulah di
antara perkataan rancu yang seharusnya diluruskan dan dijauhi oleh setiap
muslim, wallahu ta’ala a’lam.







0 komentar:
Post a Comment