Saturday, 7 April 2012

BEDA ANTARA SUNNI DENGAN SYI’AH (Bag. 1)


Oleh : Muhammad Supriadi al Jawiy


            Konflik antara sunni-syi’ah bukan persoalan baru, melainkan telah berlangsung beberapa abad yang lalu. Hal itu antara lain dipicu oleh prinsip syi’ah yang berseberangan dengan pokok keyakainan mayoritas umat islam.. Semisal menghina dan mengkafirkan Abu baker, Umar bin Khaththab dan Utsman bin affan radhiyallahu ‘anhum.yang oleh mayoritas umat islam sangat dihormati dan dimuliakan. Khususnya di Indonesia, konflik antara sunni-syiah pun sering terjadi baik yang sempat diekspose media massa atau pun tidak.
            Biasanya, saat terjadi perseteruan antara sunni dan syiah, yang selalu dianggap tidak toleran adalah kelompok mayoritas (sunni). Padahal, dalam keyakinan kelompok minoritas (syi’ah) malah dianjurkan untuk memusuhi dan membenci mayoritas (ahlussunnah/sunni) bahkan sampai menghalalkan darah dan harta mereka!. Untuk itu, marilah kita lihat sejenak, bagaimana sebenarnya perbedaan antara Islam (Ahlusunnah/sunni) dengan syi’ah.

Antara Syi’ah dan Rafidhah
            Syi’ah menurut bahasa arab bermakna : pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna : setiap kaum yang berkumpul diatas suatu perkara [1]. Adapun menurut syariat bermakna : mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu lebih utama dari seluruh sahbaat dan lebih berhak memimpin kaum muslimin, demikian anak cucunya sepeninggal beliau [2].
            Adapun Rafidhah ia diambil dari bahasa Arab yang bermakna : meninggalkan [3]. Dan menurut syari’at bermakna : mereka yang menolak imamah (kepemimpinan) Abu Bakar dan Umar, berlepas diri dari keduanya, dan mencela lagi menghina para sahabat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam [4]. Para ulama’ lebih suka menyebut mereka sebagai Rafidhah lantaran nama syiah mengandung konotasi yang baik, berbeda dengan rafidhah yang bermakna jelek.
            Syi’ah memiliki banyak pecahan, diantara sektenya yang terkenal adalah Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah (12 imam) yang dahulu getol untuk menghancurkan islam dan kaum muslimin. Hingga sekarang kelompok ini terus menerus menyebarkan ajarannya. Terlebih lagi di dukung oleh negara Iran-nya.

Siapakah Pencetus Ajaran Syi’ah Rafidhah ?
            Pencetus pertama syiah rafidhah ini adalah seorang yahudi dari Shan’a (yaman) yang bernama Abdullah bin Saba’ al Himyari. Ia menampakkan keislaman di masa kekhalifahan Utsman bin Affan radhiyallahu ’anhu.
            Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,”Aslah ajaran rafidhah ini dari munafik dan zindiq (orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran). Pencetusnya adalah seorang zindiq, Abdullah bin Saba’. Ia tampak sikap ekstrim dalam memuliakan Ali. Dengan suatu jargon bahwa Ali yang berhak menjadi Imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang maksum (terjaga dari segala dosa).”[5]

Diantara Pokok Ajaran Rafidhah

1.      Tentang al Qur’an
Didalam kitab al Kafi (yang kedudukannya disisi orang syiah rafidah seperti shahih al bukhori disisi kaum muslimin), karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al Kulaini (2/634), dijelaskan bahwa al Qur’an kita dan mereka tidak sama.lantaran al Qur’an versi mereka lebih banyak tiga kali lipat dari milik kita. Mereka juga meyakini bahwa al Qur’an yang ada ditengah tengah kita sekarang ini telah mengalami perubahan [6]

2.      Tentang Sahabat
Al-Kulaini meriwayatkan,”Manusia (para sahabat) sepeniggal Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dalam keadaan murtad, kecuali tiga orang : al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi”. (Al-Kafi :8/248, dinukil dari Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait hlm. 45)
Mereka mencintai Ali bin Abi Thalib secara berlebihan dan memusuhi para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihoi wa sallam, terlebih lagi Abu Bakar dan Umar. Bahkan istri-istri Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam mereka anggap kafir dan fasiq.

3.      Tentang Taqiyyah
Taqiyyah adalah berkata atau berbuat sesuatu yang menyelisihi keyakinan, dalam rangka nifaq, dusta, dan menipu umat manusia. Mereka yakin bahwa taqiyyah ini bagian dari agama. Lebih tepatnya sembilan per sepuluh agama. Al-Kulaini meriwayatkan dalam al-Kafi : 2/175 dari Abu Abdillah ia berkata kepada Abu Umar al-A’jami,”Wahai Abu Umar, sesungguhnya sembilan per sepuluh agama ini adalah Taqiyyah, dan tidak ada agama bagi siapa saja yang tidak bertaqiyah.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah :1/196)
Oleh karena itu, Imam malik rahimahullah ketika ditanya tentang mereka, beliau berkata,”Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu selalu berdusta!”. demikian pula Imam Syafi’i rahimahullah berkata,”Aku belum pernah tahu ada yang melebihi rafidhah dalam persaksian palsu”.[7]

4.      Tentang Raj’ah
Raj’ah adalah keyakinan hidup kembali orang yang telah meninggal (reinkarnasi). ’ahli tafsir’ mereka (orang-orang syi’ah), al Qummi ketika menafsirkan surat An Nahl : 85, berkata,”yang dimaksud dengan ayat tersebutadalah Raj’ah”. Kemudian dia menukil dari Husain bin Ali bahwa ia berkata tentang ayat ini,”Nabi kalian dan Amiru mukminin (Ali bin Abi Thalib) serta para imam akan kembali kepada kalian”. [8]

5.      Tentang al bada’
Al-Bada’ adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Bahkan mereka berkeyakinan bahwa al-Bada’ ini terjadi pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga. Al-Kulaini dalam Al-Kafi : 1/11, meriwayatkan dari Abu Abdilah (ia berkata),”Tidak ada pengagungan kepada Allah melebihi (penetapan sifat) al-Bada’ ”. Suatu keyakinan kafir yang sebelumnya diyakini oleh Yahudi



Keterangan :
[1] Tahdzibul Lughah : 3/61
[2] Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa’ Wan Nihal : 2/113
[3] Al-Qamus al-Muhith hlm. 829
[4] Badzlul Majhud Fi Isbati Musyabahatir Rafidhati Lil Yahud : 1/85, Karya Abdullah al-Juma’ili
[5] Majmu’ Fatawa : 4/435
[6] Dinukil dari kitab Asy-Syi’ah Wal Qur’an hlm. 31-32, karya Ihsan Ilahi Zhahir.
[7] Mizanul I’tidal : 2/27-28 karya AdzDzahabi
[8] Atsarut Tasyayu’ ‘Alar Riwayatit Tarikhiyah hlm.32 karya Dr. Abdul Aziz Nurwali




Surabaya, 14 Jumadil Ula 1433 H.. Pukul 14.45 WIB
Tukang bangunan, cari ilmu, dunia akherat.
[_[ MAKTABAH MUDAKU ]_]

Sumber :
Buletin AL FURQAN Tahun 6 Vol. 4  No. 1. Ditulis oleh : Abu Sahl As-Salawiy

0 komentar:

Post a Comment