Saturday, 25 February 2012

TAZKIATUN NUFUS : MACAM-MACAM HATI


Oleh : Muhammad Supriadi al Jawiy

            Hati adalah raja dalam hidup seorang manusia. Dan anggota badannya adalah pasukan / tentara dari raja tersebut. Tentu saja setiap pasukan akan selalu menuruti perintah dari sang raja. Ketika yang diperintahkan adalah kebaikan, maka pasukan tersebut akan menurutinya. Dan jika diperintahkan kepada kejelekan terkadang pasukan tersebut pun akan mengikuti kehendak rajanya itu. Begitu juga dengan hati, ia adalah raja yang menguasai tubuh seorang manusia dan mengendalikannya. Sebagaimana hadits berikut ini.

“An-Nu'man bin Basyir berkata, "Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal musyabbihat (syubhat / samar, tidak jelas halal-haramnya), yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang menjaga hal-hal musyabbihat, maka ia telah membersihkan kehormatan dan agamanya. Dan, barangsiapa yang terjerumus dalam syubhat, maka ia seperti penggembala di sekitar tanah larangan, hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai tanah larangan, dan ketahuilah sesungguhnya tanah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada segumpalt daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila segumpal daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati.'”
[HR. Bukhori]

            Anggota badan tidak akan bisa baik jika hati seorang yang memilikinya juga tidak baik. Maka seharusnya kita berusaha untuk membawa hati kita kepada jalan yang benar dan jalan yang lurus, serta menghindari dari berbagai macam penyakit hati yang dapat menjadikan hati kita berkarat. Hati itu terbagi menjadi tiga (3) macam hati, antara lain:
  1. Hati yang sehat dan hidup, yaitu hati yang selamat dari setiap syahwat yang menyelisihi perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya, hati yang selamat dari berbagai macam syubhat-syubhat, hati yang selamat syirik kepada Allah, hati yang selamat dari hukum yang menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hati yang senantiasa tunduk, patuh dan dipenuhi rasa khauf (takut) dan Raja’ (harap) kepada Allah, dan hati yang terhindar dari segala macam penyakit hati. Bagitulah yang dimaksud dengan hati yang sehat dan hidup yaitu hati yang penuh ketaqwaan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla.
  2. Hati yang mati, yaitu lawan dari hati yang hidup. Maksudnya adalah hati yang tidak mengetahui Tuhannya, hati yang tidak mau beribadah kepada Rabbnya, hati yang tidak cinta dan tidak ridho kepada Allah Ta’ala, hati yang selalu mengikuti syahwatnya, hati yang mengikuti kenikmatan-kenikmatan sesaat yang mengandung murka dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga dia beribadah kepada selain Allah, dia mencintai sesuatu karena nafsunya, dia membenci sesuatu karena nafsunya tanpa ada sedikitpun niat karena Allah, dia menjadikan hawa nafsunya sebagai pemimpin sehingga hawa nafsunya lebih diutamakannya daripada segala hal, mata hatinya tertutup karena terlalu mencintai dunia dan selalu menolak kebenaran. Dan kita semua berlindung kepada Allah dari model hati yang semacam ini.
  3. Hati yang sakit, yaitu hati yang hidup namun ada beberapa penyakit didalam hatinya, terkadang hatinya hidup dan terkadang pula hatinya sakit. Dan jiwa seseorang yang seperti ini akan selalu mengikuti sesuatu yang dominan didalam hatinya. Jika hatinya memerintahkan untuk bermaksiat maka dia pun mengikutinya, dan jika hatinya memerintahkan kepada ketaatan maka dia pun terkadang mengikutinya. Didalam hati yang sakit terdapat iman kepada Allah, niat yang ikhlas dan ketaatan-ketaatan yang lain, akan tetapi didalam hatinya terkadang muncul perasaan yang sangat berlawanan yaitu kecintaan terhadap nafsu syahwatnya, dia tidak memperdulikan apakah itu menyelisihi syari’at atau tidak. Dia berada diantara 2 penyeru, yaitu :
1.      Penyeru untuk kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Rasul-Nya, dan mengutamakan kehidupan akherat.
2.      Penyeru untuk selalu mengutamakan nafsu syahwatnya, dan mengutamakan kesenangan-kesenangan dunia.
Semua tergantung dari dirinya sendiri, apakah dia ingin kembali kepada jalan yang haq ataukah dia mengambil jalan yang bathil.

            Orang yang selamat adalah orang yang datang kepada Allah dengan membawa hati yang selamat, yaitu hati yang hidup / sehat dan hati yang terbebas dari segala macam penyakit hati. Wallahu a’lam.




Surabaya, 26 Rabi’ul Awal 1433 H.. Pukul 20.36 WIB
Tukang bangunan, cari ilmu, dunia akherat.
[_[ MAKTABAH MUDAKU ]_]

Sumber :
Secuil ilmu yang saya miliki. Setitik ilmu yang saya pelajari. Lalu kutuangkan kedalam tulisan dengan goresan pena ini.

0 komentar:

Post a Comment