Friday, 6 January 2012

TAZKIATUN NUFUS : NIAT

            Niat yang sempurna adalah terdorongnya hati untuk mengerjakan sesuatu ibadah hanya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan tidak dengan maksud memperoleh dunia dan sebagainya. Niat adalah sesuatu yang penting dalam islam, karena niat yang ikhlas merupakan salah satu diterimanya amal ibadah kita. Sebagaimana hadits berikut ini.

Dari Umar bin Khaththab radiyallahu ‘anhu dia berkata,”saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya setiap perbuatan itutergantung niatnya dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya karena (ingin mendapat ridho) Allah dan Rasul-Nya, maka (hijrahanya) kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya seperti apa yang diniatkan tersebut”.
[HR. Bukhori dan Muslim]


Hadits diatas adalah hadits yang memiliki makna yang luas dan hadits ini merupakan salah satu hadits yang sangat terkenal dikalangan para ulama’ dan kaum muslimin. Pada hadits diatas merupakan pegangan untuk amalan hati seseorang agar seorang tersebut tetap berniat ikhlas dalam melakukan amal ibadahnya tersebut, agar kita semua dapat selalu mengoreksi akan niat kita, sudah ikhlas atau belum ikhlas.
Fungsi dari suatu niat adalah anatara lain yaitu, :
  1. untuk membedakan antara ibadah dengan adat (amal kebiasaan)
  2. juga untuk membedakan antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lainnya.
Suatu amalan yang sudah sesuai sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam harusnya dikerjakan dengan niat yang benar yaitu lillah (hanya karena Allah). Bahkan ada seseorang yang memberi semangat dirinya dengan kata-kata,”walaupun kita lelah, tapi kita tetap lillah”. Itulah kalimat yang seharusnya dijadikan pegangan oleh setiap muslimin dan muslimah agar dia tetap bersemangat dalam beribadah serta tetap ikhlas karena Allah ‘Azza Wa Jalla. Pahala seseorang dalam mengerjakan sesuatu amalan juga berdasarkan niatnya, semakin ikhlas niat orang tersebut maka semakin besar pula pahalanya dan semakin tidak ikhlas niat orang tersebut maka pahalnya juga akan semakin kecil. Dalam hadits tersebut juga Rasulullah shallalahu ‘alahi wa sallam mencontohkan hijrah sebagai contoh dari banyak ibadah lainnya.
Niat yang baik dan benar itu hanya untuk ketaatan / perbuatan-perbuatan yang baik dan mubah saja. Dan tidak mungkin niat yang baik itu ada dalam kemaksiatan dan kesyirikan. Karena ketaatan bisa berubah menjadi kemaksiatan karena niatnya yang tidak benar, dan kemaksiatan tidak bisa berubah menjadi ketaatan karena niat yang benar. Itulah yang menunjukkan ketaatan dan kemaksiatan tidak akan bisa bersatu pada niat yang baik dan benar.
Batapa banyak amalan yang kecil namun bernilai besar karena niatnya dan betapa banyak pula amalan yang besar namun bernilai kecil karena niatnya. Maka dari itu hendaklah yang harus kita benahi terlebih dahulu adalah niat suatu amalan, bukan banyak tidaknya suatu amalan. Karena syarat diterimanya amalan itu bukan karena banyak tidaknya tetapi syarat diterimanya suatu amalan adalah karena :
1.      Niatnya baik dan benar yaitu ikhlas.
2.      mencontoh sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hakekat dari niat adalah bukan sesuatu yang dilafalkan atau diucapkan, tetapi hakekat niat adalah dorongan untuk mengerjakan suatu amalan yang muncul dari hatinya dengan suatu sebab. Begitulah sedikit penjelasan yang bisa saya berikan berkenaan dengan niat, kurang lebihnya mohon maaf.. Wallahu Ta’ala A’lam.



Ditulis oleh : tukang bangunan, cari ilmu, dunia akherat.

Kritik dan saran anda sangat dibutuhkan.

Surabaya, 25 Desember 2011.  (11.08).. di siang hari yang sangat cerah.
Goresan tinta seorang thalibul ‘ilmi.

0 komentar:

Post a Comment